SEMARANGNEXT.ID, SEMARANG — Peralihan armada Trans Semarang dari bus berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik mulai menunjukkan keuntungan dari sisi biaya.
Pemerintah Kota Semarang menyebut penggunaan bus listrik Trans Semarang mampu menghemat biaya operasional sekitar 19 persen dibandingkan armada berbahan bakar minyak.
Efisiensi tersebut menjadi salah satu keuntungan dari pengoperasian 27 bus listrik yang disiapkan untuk Koridor 1 Terminal Mangkang–Terminal Penggaron pulang-pergi.
Kepala BLU UPTD Trans Semarang Haris Setyo Yunanto menjelaskan, bus listrik berukuran 12 meter yang digunakan memiliki kemampuan menempuh jarak sekitar 300 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Jarak tersebut dinilai mencukupi kebutuhan operasional selama satu hari sehingga bus tidak perlu melakukan pengisian daya di tengah waktu pelayanan.
Sekali Charge Bisa Tempuh Sekitar 300 Kilometer
Daya jelajah menjadi salah satu pertanyaan utama ketika kendaraan listrik digunakan sebagai transportasi publik.
Berbeda dengan mobil pribadi, bus kota harus beroperasi selama berjam-jam dan menempuh perjalanan berulang kali dalam sehari.
Untuk armada baru Trans Semarang, satu kali pengisian baterai disebut mampu memberikan jarak tempuh sekitar 300 kilometer.
Dengan kemampuan tersebut, proses pengisian daya dapat dilakukan di luar jam pelayanan sehingga tidak mengganggu perjalanan penumpang.
Efisiensi energi itulah yang kemudian ikut berkontribusi terhadap penghematan biaya operasional.
Berdasarkan perhitungan pengelola Trans Semarang, penggunaan armada listrik menghasilkan efisiensi sekitar 19 persen dibandingkan bus berbahan bakar minyak.
27 Bus Listrik untuk Koridor Mangkang–Penggaron
Sebanyak 27 unit bus listrik disiapkan untuk memperkuat Koridor 1 Trans Semarang.
Koridor ini melayani perjalanan dari Terminal Mangkang menuju Terminal Penggaron, menghubungkan wilayah barat dan timur Kota Semarang.
Namun seluruh armada tidak langsung beroperasi secara bersamaan.
Pengoperasian dilakukan secara bertahap. Ketika armada diperkenalkan pada akhir September, baru dua unit yang mulai beroperasi.
Penambahan selanjutnya dilakukan secara berkala dengan target seluruh 27 unit tersedia pada awal November 2026. Sebanyak 25 bus direncanakan untuk operasional dan dua lainnya menjadi armada cadangan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari program peremajaan armada transportasi publik Kota Semarang.
Pemkot menargetkan 132 dari total 284 armada Trans Semarang diremajakan sepanjang 2026.
Bus Dibuat Low Deck, Lebih Mudah Diakses Lansia dan Difabel
Perubahan paling terasa bagi penumpang bukan hanya pada sumber energinya.
Bus listrik yang digunakan pada Koridor 1 memiliki desain low deck atau lantai rendah.
Desain tersebut membuat akses naik dan turun bus lebih mudah dibandingkan kendaraan berlantai tinggi, terutama bagi lansia, anak-anak dan penyandang disabilitas.
Hal ini cukup penting jika melihat karakter penumpang Trans Semarang.
Menurut pencatatan pengelola, Trans Semarang melayani rata-rata sekitar 35.000 penumpang setiap hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar 7.000 penumpang merupakan lansia.
Artinya, kurang lebih satu dari lima pengguna layanan merupakan kelompok usia lanjut yang membutuhkan akses transportasi publik lebih ramah.
Bus sepanjang 12 meter tersebut memiliki kapasitas sekitar 48 hingga 60 penumpang, termasuk penumpang duduk dan berdiri.
Lebih Senyap dan Tanpa Emisi Gas Buang Langsung
Selain efisiensi biaya, elektrifikasi juga mengubah pengalaman berada di dalam maupun sekitar bus.
Motor listrik menghasilkan tingkat kebisingan operasional yang lebih rendah dibandingkan mesin pembakaran internal.
Bus juga tidak menghasilkan emisi gas buang langsung dari knalpot selama perjalanan.
Bagi Kota Semarang, penggunaan armada semacam ini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi secara bertahap.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sebelumnya menegaskan peremajaan armada tidak dapat dilakukan sekaligus.
Bus lama yang menghasilkan emisi akan diganti secara bertahap dengan kendaraan yang lebih bersih.
Dengan demikian, kehadiran 27 bus listrik di Koridor 1 dapat dipandang sebagai tahap awal, bukan akhir dari proses elektrifikasi Trans Semarang.
Koridor Lain Menyusul pada 2027
Jika implementasi di Koridor 1 berjalan sesuai rencana, penggunaan bus listrik tidak akan berhenti pada rute Mangkang–Penggaron.
Pengelola Trans Semarang telah membuka rencana memperluas penggunaan armada listrik ke koridor lain pada 2027.
Namun ekspansi tersebut tetap harus mempertimbangkan sejumlah faktor.
Kebutuhan armada setiap koridor berbeda, begitu pula panjang rute, jumlah penumpang dan fasilitas pendukung pengisian daya.
Karena itu, Koridor 1 menjadi tahapan penting untuk melihat bagaimana kendaraan listrik bekerja dalam kondisi operasional nyata Trans Semarang.
Hemat 19 Persen, Tapi Ada Pertanyaan Jangka Panjang
Penghematan biaya operasional sebesar 19 persen menjadi angka yang menarik.
Namun untuk menilai manfaat ekonomi bus listrik secara menyeluruh, perhitungan jangka panjang juga perlu mempertimbangkan harga pengadaan kendaraan, pembangunan infrastruktur pengisian daya, pemeliharaan serta umur dan penggantian baterai.
Karena itu, efisiensi operasional tidak otomatis berarti keseluruhan biaya kepemilikan bus turun dalam persentase yang sama.
Evaluasi setelah armada beroperasi penuh akan menjadi penting.
Data penggunaan energi, biaya pemeliharaan, keandalan baterai, waktu pengisian hingga jumlah kilometer yang ditempuh dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai keuntungan ekonominya.
Bagi penumpang, ukuran keberhasilan bahkan lebih sederhana.
Bus harus datang tepat waktu, nyaman, mudah diakses dan mampu mengantarkan mereka sampai tujuan.
Awal Perubahan Transportasi Publik Semarang
Kehadiran bus listrik membuat wajah transportasi publik Kota Semarang perlahan berubah.
Jika sebelumnya elektrifikasi lebih banyak terlihat pada kendaraan pribadi, kini masyarakat dapat menggunakannya langsung dalam perjalanan sehari-hari melalui Trans Semarang.
Koridor Mangkang–Penggaron menjadi tempat pertama transformasi tersebut berlangsung dalam skala 27 armada.
Jika penghematan operasional dapat dipertahankan ketika seluruh bus beroperasi dan kualitas pelayanan meningkat, elektrifikasi berpotensi memberikan dua keuntungan sekaligus: menekan biaya operasional dan membuat transportasi publik Semarang lebih bersih serta inklusif.
Ujian berikutnya adalah memastikan perubahan teknologi tersebut benar-benar berujung pada layanan yang lebih baik bagi puluhan ribu warga yang menggunakan Trans Semarang setiap hari.
Bus Listrik Trans Semarang dalam Angka
Jumlah armada: 27 unit
Operasional: 25 unit + 2 cadangan
Koridor: Koridor 1
Rute: Terminal Mangkang–Terminal Penggaron PP
Panjang bus: 12 meter
Desain: Low deck
Kapasitas: sekitar 48–60 penumpang
Jarak sekali charge: sekitar 300 kilometer
Efisiensi operasional: sekitar 19 persen
Penumpang Trans Semarang: sekitar 35.000 orang per hari
Penumpang lansia: sekitar 7.000 orang per hari
Rencana ekspansi: Koridor lain mulai 2027