Bandara Ahmad Yani Mulai Manfaatkan PLTS untuk Pasokan Energi

Bandara Ahmad Yani Semarang memanfaatkan PLTS berkapasitas 776,16 kWp untuk mendukung kebutuhan listrik dan pengembangan konsep green airport.

Bagikan
Bandara Ahmad Yani Mulai Manfaatkan PLTS untuk Pasokan Energi
Gambar hanya berupa ilustrasi

SEMARANGNEXT.ID, SEMARANG — Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang mulai memanfaatkan energi matahari untuk mendukung kebutuhan listrik operasional.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS berkapasitas 776,16 kilowatt peak (kWp) kini menjadi salah satu sumber energi di bandara tersebut.

Pemanfaatan PLTS menjadi bagian dari upaya pengelola bandara mengurangi ketergantungan terhadap energi konvensional sekaligus mendukung operasional bandara yang lebih ramah lingkungan.

General Manager Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Fajar Purwawidada, mengatakan fasilitas PLTS telah digunakan untuk mendukung kebutuhan energi bandara.

Kehadiran pembangkit surya tersebut juga menjadi bagian dari transformasi menuju konsep green airport.

Kapasitas PLTS 776,16 kWp

PLTS yang digunakan Bandara Ahmad Yani memiliki kapasitas terpasang sebesar 776,16 kWp.

Angka tersebut menunjukkan kapasitas puncak panel surya dalam kondisi pengujian standar, bukan berarti PLTS terus-menerus menghasilkan listrik sebesar 776,16 kilowatt sepanjang hari.

Produksi listrik aktual dapat berubah mengikuti intensitas matahari, cuaca, efisiensi sistem dan durasi penyinaran.

Energi yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik operasional bandara.

Pemanfaatan tenaga surya cukup relevan bagi fasilitas seperti bandara karena kebutuhan listrik berlangsung setiap hari, mulai dari penerangan, fasilitas terminal hingga berbagai sistem pendukung operasional.

Bukan Satu-satunya Sumber Listrik

Meski memiliki PLTS sendiri, Bandara Ahmad Yani tetap membutuhkan pasokan listrik dari jaringan.

Kebutuhan daya bandara mencapai sekitar 4.330 kVA.

Dengan demikian, PLTS berfungsi sebagai salah satu bagian dari bauran pasokan energi dan bukan pengganti seluruh kebutuhan listrik bandara.

Perbedaan ini penting karena kapasitas PLTS tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan kebutuhan daya bandara tanpa memperhitungkan waktu produksi, profil beban dan energi yang dihasilkan sepanjang hari.

Namun keberadaan pembangkit surya memungkinkan sebagian kebutuhan energi dipenuhi dari sumber terbarukan.

Dalam jangka panjang, penggunaan energi matahari juga berpotensi membantu mengurangi konsumsi listrik dari sumber konvensional pada saat PLTS menghasilkan energi.

Bandara Butuh Listrik 24 Jam

Bandara merupakan salah satu fasilitas transportasi dengan kebutuhan energi yang kompleks.

Terminal penumpang membutuhkan pencahayaan, pendingin ruangan, perangkat pemeriksaan keamanan, sistem informasi penerbangan hingga berbagai fasilitas komersial.

Di sisi operasional terdapat sistem kelistrikan dan peralatan pendukung lain yang harus tetap tersedia untuk menjaga pelayanan.

Kebutuhan tersebut tidak berhenti ketika matahari terbenam.

Karena itu, implementasi energi surya di lingkungan bandara membutuhkan sistem yang mampu berjalan berdampingan dengan sumber listrik lainnya.

Pada siang hari, PLTS dapat membantu memasok energi ketika sinar matahari tersedia. Ketika produksinya turun, kebutuhan listrik tetap ditopang sistem kelistrikan utama.

Langkah Menuju Green Airport

Pemanfaatan energi matahari merupakan salah satu bagian dari pendekatan bandara berwawasan lingkungan.

Konsep green airport tidak hanya berkaitan dengan sumber energi.

Pengelolaan air, limbah, efisiensi bangunan, kendaraan operasional, penggunaan listrik hingga pengendalian emisi juga menjadi bagian dari upaya membuat operasional bandara lebih berkelanjutan.

Bandara Ahmad Yani memiliki karakter yang menarik dalam konteks tersebut.

Terminal baru bandara dibangun di kawasan pesisir Semarang dan dikenal menggunakan konsep bangunan yang memperhatikan lingkungan sekitarnya.

Kehadiran PLTS menambahkan elemen energi terbarukan pada pengelolaan fasilitas tersebut.

Semarang Mulai Melihat Elektrifikasi di Infrastruktur Transportasi

Penggunaan PLTS di Bandara Ahmad Yani juga hadir ketika sektor transportasi Semarang mulai mengalami perubahan menuju penggunaan energi yang lebih bersih.

Di jalan raya, Trans Semarang mulai mengoperasikan bus listrik untuk Koridor 1 Mangkang–Penggaron.

Di sektor penerbangan, Bandara Ahmad Yani mulai memanfaatkan energi surya untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik fasilitasnya.

Kedua program memiliki skala dan karakter yang berbeda.

Namun keduanya memperlihatkan bagaimana teknologi energi bersih mulai masuk ke infrastruktur transportasi yang digunakan masyarakat Semarang sehari-hari.

Tantangan berikutnya adalah memastikan penggunaan teknologi tersebut memberikan dampak yang terukur.

Berapa Banyak Energi yang Bisa Dihemat?

Kapasitas 776,16 kWp memberikan gambaran mengenai ukuran sistem PLTS, tetapi belum cukup untuk menentukan berapa besar penghematan listrik bandara dalam setahun.

Untuk mengetahui dampaknya secara lebih lengkap dibutuhkan data produksi energi, misalnya dalam kilowatt-jam (kWh) per bulan atau per tahun.

Dari data tersebut baru dapat dihitung berapa persen kebutuhan energi bandara yang dipenuhi PLTS serta seberapa besar pengurangan konsumsi listrik dari jaringan.

Data produksi aktual juga penting untuk mengevaluasi performa sistem dari waktu ke waktu.

Bagi publik, angka seperti persentase kebutuhan listrik yang dipenuhi tenaga surya akan membuat manfaat PLTS lebih mudah dipahami daripada hanya melihat kapasitas terpasang.

Bandara dan Tantangan Transisi Energi

Elektrifikasi fasilitas transportasi merupakan salah satu bagian dari transisi energi yang lebih luas.

Bandara memiliki tantangan tersendiri karena operasional harus berlangsung dengan standar keselamatan dan keandalan tinggi.

Karena itu, perubahan sumber energi tidak dapat mengorbankan kestabilan pasokan listrik.

Pemanfaatan PLTS memungkinkan transisi dilakukan secara bertahap.

Energi matahari digunakan ketika tersedia, sementara jaringan listrik tetap menopang kebutuhan operasional secara keseluruhan.

Model seperti ini memungkinkan fasilitas besar mulai memanfaatkan energi terbarukan tanpa harus mengubah seluruh sistem pasokan dalam satu waktu.

Matahari Semarang Jadi Sumber Energi Bandara

Bagi penumpang, perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat ketika memasuki terminal.

Tidak ada perbedaan dalam proses check-in, pemeriksaan keamanan atau menunggu penerbangan.

Namun di balik operasional terminal, sebagian kebutuhan energi kini mulai ditopang oleh panel surya.

Kapasitas 776,16 kWp memang belum menggantikan seluruh kebutuhan listrik Bandara Ahmad Yani.

Tetapi langkah tersebut menunjukkan arah yang mulai ditempuh.

Jika pemanfaatan energi surya terus dioptimalkan dan produksinya dapat diukur secara transparan, Bandara Ahmad Yani berpeluang memperbesar porsi energi terbarukan dalam operasionalnya.

Dari pesisir Semarang, sinar matahari kini bukan hanya menerangi kawasan bandara.

Sebagian juga diubah menjadi listrik untuk membantu menjalankan salah satu pintu masuk utama menuju Jawa Tengah.

Kembali ke semua berita