Festival Kota Lama 2026 Diperpanjang, Kawasan Bersejarah Semarang Kembali Jadi Magnet Wisata

Festival Kota Lama Semarang 2026 diperpanjang menjadi 17 hari hingga 20 September. Momentum MTQ Nasional membuat kawasan heritage kembali menjadi magnet wisata.

Bagikan
Festival Kota Lama 2026 Diperpanjang, Kawasan Bersejarah Semarang Kembali Jadi Magnet Wisata
Gambar hanya berupa ilustrasi

SEMARANGNEXT.ID, SEMARANG — Bangunan tua, jalan berbatu, pertunjukan seni hingga kuliner nostalgia kembali menghidupkan kawasan Kota Lama Semarang sepanjang September 2026.

Festival Kota Lama (FKL) Semarang XV yang semula direncanakan berlangsung selama 11 hari diperpanjang menjadi 17 hari, mulai 4 hingga 20 September 2026.

Perpanjangan dilakukan untuk memanfaatkan momentum penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Kota Semarang.

Ribuan peserta dan tamu dari berbagai provinsi datang ke Semarang selama agenda nasional tersebut. Pemerintah ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk tidak hanya mengikuti MTQ, tetapi juga mengenal salah satu kawasan bersejarah paling ikonik di ibu kota Jawa Tengah.

Festival Kota Lama pun menjadi lebih dari sekadar agenda budaya tahunan.

Kawasan heritage tersebut kembali ditempatkan sebagai salah satu etalase utama pariwisata Semarang.

Dari 11 Hari Menjadi 17 Hari

Festival Kota Lama XV resmi dibuka pada Jumat, 4 September 2026, dengan pusat kegiatan pembukaan di fasad Gedung Yayasan Kanisius.

Awalnya festival dijadwalkan berlangsung selama 11 hari.

Namun jadwal kemudian diperpanjang hingga 20 September agar beririsan dengan rangkaian MTQ Nasional XXXI yang berlangsung di Semarang.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menjelaskan, jadwal kegiatan peserta MTQ cukup padat.

Perpanjangan festival memberikan lebih banyak kesempatan bagi kafilah dan tamu untuk datang ke Kota Lama di sela agenda mereka.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno juga melihat kedatangan peserta MTQ sebagai momentum memperkenalkan Kota Lama sekaligus menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sekitar 7.000 orang dari berbagai provinsi diperkirakan hadir dalam gelaran MTQ Nasional.

Bukan Sekadar Melihat Gedung Tua

Kota Lama memiliki daya tarik yang mudah dikenali.

Bangunan peninggalan masa kolonial berjajar di sepanjang kawasan, dengan Gereja Blenduk menjadi salah satu landmark paling populer.

Namun Festival Kota Lama mencoba membawa pengunjung melampaui pengalaman sekadar berfoto dengan latar bangunan tua.

Sepanjang festival, berbagai kegiatan seni, budaya, kuliner dan komunitas disebar di kawasan tersebut.

Tema “Unity in Diversity” dipilih untuk Festival Kota Lama XV.

Tema itu menempatkan Kota Lama sebagai ruang perjumpaan berbagai kebudayaan yang berkembang di Semarang.

Wali Kota menekankan bahwa Kota Lama tidak hanya merepresentasikan peninggalan Hindia Belanda.

Kawasan tersebut juga menjadi ruang bagi berbagai seni dan budaya yang mencerminkan keberagaman Kota Semarang.

Pasar Malam Sentiling Bawa Pengunjung Bernostalgia

Kuliner kembali menjadi salah satu magnet Festival Kota Lama.

Pasar Malam Sentiling digelar pada 4–13 September sebagai bagian dari rangkaian festival.

Konsepnya membawa pengunjung menikmati suasana pasar malam sekaligus berbagai pilihan kuliner.

Kehadiran agenda kuliner penting karena pengalaman wisata di Kota Lama tidak hanya bergantung pada bangunan heritage.

Setelah berjalan kaki menyusuri kawasan atau mengikuti pertunjukan, pengunjung membutuhkan tempat untuk makan, beristirahat dan berkumpul.

Aktivitas tersebut kemudian menciptakan perputaran ekonomi bagi pedagang dan pelaku usaha di sekitar kawasan.

Semakin lama wisatawan berada di Kota Lama, semakin besar pula peluang belanja yang tercipta.

Dari Rijsttafel hingga Wayang Orang di Jalan

Rangkaian Festival Kota Lama tahun ini cukup beragam.

Selain Pasar Malam Sentiling, festival menghadirkan Orkes on The Street and Dance, Rijsttafel Dinner, Gowes Semarang Heritage, Chess Kota Lama, Living Book, Living Story hingga Wayang Orang on The Street.

Ada pula kegiatan yang membawa pengunjung berinteraksi langsung dengan tradisi.

Salah satunya seni merangkai janur.

Anak-anak dan generasi muda dapat belajar membuat ketupat, bentuk burung atau manuk-manukan, hingga hiasan tradisional untuk pernikahan.

Mereka tidak hanya diajarkan cara membuatnya, tetapi juga dikenalkan pada makna di balik kerajinan tersebut.

Pendekatan seperti ini membuat festival berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan budaya.

Tradisi yang mungkin semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kembali diperkenalkan kepada generasi baru.

Fiesta Folklore Hidupkan Fasad Gedung Marba

Menjelang akhir festival, kawasan di depan Gedung Marba menjadi salah satu pusat keramaian.

Fiesta Folklore Festival Kota Lama digelar pada 18–19 September 2026.

Pertunjukan berlangsung pada sore hingga malam hari dengan latar fasad bangunan bersejarah.

Agenda tersebut menampilkan seni dan budaya Nusantara sebagai bagian dari tema keberagaman yang diusung festival.

Pemilihan ruang terbuka di tengah kawasan heritage menciptakan karakter yang berbeda dibandingkan pertunjukan di dalam gedung.

Arsitektur Kota Lama bukan sekadar latar.

Bangunan dan ruang kota ikut menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan.

Seribu Angklung Berkebaya Jadi Atraksi

Agenda lain yang disiapkan adalah pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya pada 19 September.

Konsep tersebut mempertemukan musik tradisional angklung dengan kebaya dalam sebuah pertunjukan massal.

Kegiatan seperti ini memiliki nilai visual yang kuat untuk sebuah destinasi wisata.

Ratusan hingga ribuan peserta dalam satu ruang bersejarah menghasilkan pengalaman yang mudah dibagikan melalui media sosial.

Di era ketika foto dan video wisata dapat menyebar dalam hitungan menit, atraksi visual menjadi salah satu bentuk promosi destinasi yang efektif.

Pengunjung tidak hanya menjadi penonton.

Mereka sekaligus menjadi orang yang memperkenalkan Kota Lama kepada jaringan mereka melalui unggahan digital.

Gowes Menyambungkan Kawasan Heritage Semarang

Festival juga tidak hanya berpusat pada satu titik.

Dalam Gowes Semarang Heritage pada 6 September, perjalanan dimulai dari Kelenteng Tay Kak Sie dan berakhir di Gedung Oudetrap, Kota Lama.

Rute tersebut menarik karena menghubungkan kawasan Pecinan dengan Kota Lama.

Keduanya merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Semarang.

Konsep semacam ini membuka peluang pengembangan wisata yang lebih luas.

Wisatawan tidak harus melihat Kota Lama sebagai destinasi yang berdiri sendiri.

Perjalanan dapat dihubungkan dengan Pecinan, Kauman dan kawasan bersejarah lain sehingga waktu kunjungan wisatawan di Semarang menjadi lebih panjang.

MTQ Jadi Momentum Promosi Kota

Keputusan memperpanjang festival tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.

Semarang menjadi tempat berkumpulnya peserta, pendamping dan tamu dari berbagai wilayah Indonesia.

Bagi sektor pariwisata, kedatangan dalam jumlah besar merupakan kesempatan promosi.

Seseorang mungkin datang ke Semarang karena mengikuti kompetisi atau tugas kedinasan.

Namun ketika memiliki waktu luang, ia tetap membutuhkan tempat makan, destinasi wisata dan oleh-oleh.

Kota Lama menjadi salah satu tempat yang paling mudah diperkenalkan kepada pengunjung tersebut.

Program MTQ bahkan memasukkan wisata heritage Semarang yang mencakup Kota Lama, Pura Agung Giri Natha dan Lawang Sewu, serta walking tour yang menghubungkan Candi Baroe, Pecinan dan Kota Lama.

Dengan demikian, festival dan MTQ membentuk hubungan yang saling menguntungkan.

MTQ mendatangkan pengunjung, sementara Kota Lama memberikan pengalaman wisata di luar agenda utama.

Festival Bisa Menggerakkan Ekonomi Kreatif

Keramaian festival juga membuka peluang ekonomi.

Pengunjung membutuhkan makanan dan minuman.

Mereka membeli produk lokal, menggunakan transportasi, mendatangi kafe dan restoran, serta berbelanja di kawasan sekitar.

Pelaku ekonomi kreatif memperoleh ruang untuk menampilkan karya.

Komunitas mendapatkan panggung.

Seniman bertemu dengan audiens yang lebih luas.

Karena itu, pemerintah provinsi melihat Festival Kota Lama bukan hanya sebagai kegiatan pelestarian budaya, tetapi juga bagian dari pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dampak ekonomi yang tepat tentu membutuhkan pengukuran lebih lanjut, seperti jumlah pengunjung, transaksi UMKM, okupansi akomodasi atau lama tinggal wisatawan.

Namun semakin panjang durasi festival memberikan lebih banyak kesempatan bagi aktivitas ekonomi berlangsung.

Tantangannya: Kota Lama Jangan Ramai Hanya Saat Festival

Festival memiliki satu kekuatan besar: menciptakan alasan bagi masyarakat untuk datang.

Namun sekaligus muncul tantangan.

Bagaimana membuat pengunjung kembali ketika panggung sudah dibongkar?

Kota Lama membutuhkan daya tarik yang tetap bekerja sepanjang tahun.

Kebersihan, keamanan, pencahayaan, pedestrian, pengelolaan parkir, transportasi publik, kualitas kuliner hingga informasi sejarah menjadi bagian dari pengalaman wisata sehari-hari.

Bangunan heritage juga membutuhkan perawatan berkelanjutan.

Sebuah festival dapat mendatangkan keramaian selama beberapa hari, tetapi kualitas pengelolaan kawasan menentukan apakah wisatawan ingin kembali.

Dari Kawasan Tua Menjadi Ruang Hidup Kota

Transformasi Kota Lama Semarang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bagaimana kawasan bersejarah dapat memperoleh fungsi baru.

Bangunan lama tetap menjadi identitas utama.

Namun di antara fasad berusia puluhan hingga ratusan tahun itu kini hadir kafe, restoran, galeri, ruang komunitas dan berbagai kegiatan publik.

Festival Kota Lama memperkuat fungsi tersebut.

Kawasan tidak hanya diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu yang dilihat dari kejauhan.

Ia digunakan kembali sebagai ruang pertemuan masyarakat.

Konsep inilah yang membuat pelestarian heritage memiliki relevansi dengan kehidupan kota modern.

Bangunan dipertahankan, sementara aktivitas baru terus tumbuh di sekelilingnya.

Kota Lama Kembali Jadi Etalase Semarang

Festival Kota Lama XV telah berakhir, tetapi penyelenggaraan selama 17 hari memberikan gambaran mengenai posisi kawasan tersebut dalam strategi pariwisata Semarang.

Ketika ribuan tamu MTQ datang dari berbagai provinsi, Kota Lama menjadi salah satu tempat yang diperkenalkan kepada mereka.

Ketika festival berlangsung, seni, kuliner, sejarah dan ekonomi kreatif bertemu dalam satu kawasan.

Dan ketika masyarakat memenuhi jalan-jalan Kota Lama pada sore hingga malam hari, bangunan bersejarah kembali memperoleh kehidupan melalui aktivitas baru.

Inilah kekuatan utama Kota Lama.

Daya tariknya bukan hanya pada usia bangunannya.

Melainkan pada kemampuan kawasan tersebut menghubungkan sejarah Semarang dengan kehidupan kota hari ini.

Festival memang hanya berlangsung beberapa pekan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan magnet wisata Kota Lama tetap bekerja sepanjang tahun.

Festival Kota Lama Semarang 2026

Edisi: Festival Kota Lama XV

Tanggal: 4–20 September 2026

Durasi: 17 hari

Rencana awal: 11 hari

Lokasi: Kawasan Kota Lama Semarang

Tema: Unity in Diversity

Momentum: MTQ Nasional XXXI

Perkiraan tamu MTQ dari berbagai provinsi: sekitar 7.000 orang

Beberapa Agenda Festival

Pasar Malam Sentiling: 4–13 September

Gowes Semarang Heritage: 6 September

Fiesta Folklore: 18–19 September

1.000 Angklung Berkebaya: 19 September

Agenda lain: Orkes on The Street and Dance, Rijsttafel Dinner, Chess Kota Lama, Living Book, Living Story dan Wayang Orang on The Street

Kembali ke semua berita