SEMARANGNEXT.ID, SEMARANG — Ada yang berbeda dari KA Argo Merbabu yang melayani perjalanan Semarang–Jakarta. Kereta eksekutif tersebut kini tampil mencolok dengan balutan livery vintage bernuansa hijau-kuning yang membawa kembali suasana perkeretaapian Indonesia era 1950-an.
Tampilan khusus tersebut diperkenalkan KAI Daop 4 Semarang di Stasiun Semarang Tawang, Senin (28/9/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Bukan sekadar mengganti warna, desain Argo Merbabu kali ini mengambil inspirasi dari kereta seri ABL-9000 yang digunakan pada masa Djawatan Kereta Api (DKA).
Kepala KAI Daop 4 Semarang Muhamad Arie Fathurrochman menjelaskan, corak hijau-kuning dipilih sebagai pengingat perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.
Menurutnya, livery tersebut merupakan salah satu corak yang paling lama digunakan dalam sejarah kereta api di Indonesia.
Terinspirasi Kereta ABL-9000 Era 1950-an
Di balik kombinasi warna klasik tersebut tersimpan cerita panjang.
Kereta seri ABL-9000 mulai digunakan DKA pada 1 Oktober 1954. Sebanyak 49 unit dipesan dan diproduksi oleh tiga perusahaan asal Prancis.
Pada masa awal operasionalnya, ABL-9000 digunakan untuk mendukung layanan kereta ekspres di sejumlah rute penting.
Salah satunya adalah Jakarta–Semarang, jalur yang puluhan tahun kemudian kini dilayani KA Argo Merbabu.
ABL-9000 juga pernah digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.
Keterkaitan sejarah itulah yang kemudian dibawa kembali melalui tampilan KA Argo Merbabu.
Klasik di Luar, Modern di Dalam
Meski bagian luar Argo Merbabu berubah menjadi bernuansa tempo dulu, penumpang tidak perlu khawatir akan perubahan fasilitas.
Interior dan pelayanan kereta tetap menggunakan standar reguler KA Argo Merbabu.
Artinya, konsep vintage hanya diterapkan pada tampilan eksterior rangkaian.
Satu rangkaian Argo Merbabu dengan livery khusus tersebut terdiri dari sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, serta satu kereta pembangkit.
Total kapasitasnya mencapai 450 tempat duduk.
Kereta tersebut tetap menjalankan fungsi regulernya dengan melayani perjalanan Semarang Tawang–Gambir pulang pergi.
Bagian dari Perayaan HUT ke-81 KAI
Kemunculan Argo Merbabu berwajah klasik merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 KAI.
Sebelumnya, KAI juga menggelar perjalanan heritage joy ride dari Semarang menuju Kedungjati.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, sejarah perkeretaapian tidak hanya ditampilkan melalui museum maupun koleksi benda lama, tetapi dibawa kembali ke jalur aktif yang digunakan masyarakat.
Kehadiran Argo Merbabu berbalut livery vintage pun memberikan pemandangan berbeda bagi penumpang maupun masyarakat yang berada di sekitar jalur kereta.
Mulai 1 Oktober, Nama Argo Merbabu Berubah
Ada fakta lain yang membuat kemunculan livery vintage Argo Merbabu kali ini terasa istimewa.
Mulai 1 Oktober 2026, KAI akan menyederhanakan nama tiga layanan kereta relasi Semarang Tawang–Gambir.
Nama Argo Muria, Argo Sindoro, dan Argo Merbabu akan disatukan menggunakan satu identitas, yakni KA Muria.
Perubahan tersebut dilakukan untuk membuat identitas layanan lebih ringkas dan memudahkan pelanggan ketika mencari jadwal maupun melakukan pemesanan tiket.
Karena itu, pelanggan yang selama ini terbiasa mencari tiket Argo Merbabu perlu mulai memperhatikan nama KA Muria untuk perjalanan mulai 1 Oktober 2026.
Meski namanya berubah, pilihan perjalanan Semarang–Jakarta tetap tersedia.
KA Muria akan menggunakan sembilan kereta kelas eksekutif dengan kapasitas total 450 tempat duduk. Kereta melayani sejumlah stasiun seperti Pekalongan, Tegal, Cirebon, Bekasi, Jatinegara hingga Gambir. Pada perjalanan tertentu terdapat tambahan pemberhentian di Batang, Pemalang, dan Karawang.
Dengan perubahan tersebut, kemunculan Argo Merbabu berbalut hijau-kuning bukan hanya membawa kembali wajah kereta Indonesia dari masa lalu.
Momen ini sekaligus hadir menjelang perubahan identitas layanan kereta eksekutif yang selama ini menjadi salah satu penghubung utama Kota Semarang dengan Jakarta.
Bagi warga Semarang dan penggemar kereta api, Argo Merbabu berwajah retro menjadi pertemuan unik antara sejarah perkeretaapian era 1950-an dengan layanan kereta modern masa kini.
Tampilan khusus tersebut diperkenalkan KAI Daop 4 Semarang di Stasiun Semarang Tawang, Senin (28/9/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Bukan sekadar mengganti warna, desain Argo Merbabu kali ini mengambil inspirasi dari kereta seri ABL-9000 yang digunakan pada masa Djawatan Kereta Api (DKA).
Kepala KAI Daop 4 Semarang Muhamad Arie Fathurrochman menjelaskan, corak hijau-kuning dipilih sebagai pengingat perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.
Menurutnya, livery tersebut merupakan salah satu corak yang paling lama digunakan dalam sejarah kereta api di Indonesia.
Terinspirasi Kereta ABL-9000 Era 1950-an
Di balik kombinasi warna klasik tersebut tersimpan cerita panjang.
Kereta seri ABL-9000 mulai digunakan DKA pada 1 Oktober 1954. Sebanyak 49 unit dipesan dan diproduksi oleh tiga perusahaan asal Prancis.
Pada masa awal operasionalnya, ABL-9000 digunakan untuk mendukung layanan kereta ekspres di sejumlah rute penting.
Salah satunya adalah Jakarta–Semarang, jalur yang puluhan tahun kemudian kini dilayani KA Argo Merbabu.
ABL-9000 juga pernah digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.
Keterkaitan sejarah itulah yang kemudian dibawa kembali melalui tampilan KA Argo Merbabu.
Klasik di Luar, Modern di Dalam
Meski bagian luar Argo Merbabu berubah menjadi bernuansa tempo dulu, penumpang tidak perlu khawatir akan perubahan fasilitas.
Interior dan pelayanan kereta tetap menggunakan standar reguler KA Argo Merbabu.
Artinya, konsep vintage hanya diterapkan pada tampilan eksterior rangkaian.
Satu rangkaian Argo Merbabu dengan livery khusus tersebut terdiri dari sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, serta satu kereta pembangkit.
Total kapasitasnya mencapai 450 tempat duduk.
Kereta tersebut tetap menjalankan fungsi regulernya dengan melayani perjalanan Semarang Tawang–Gambir pulang pergi.
Bagian dari Perayaan HUT ke-81 KAI
Kemunculan Argo Merbabu berwajah klasik merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 KAI.
Sebelumnya, KAI juga menggelar perjalanan heritage joy ride dari Semarang menuju Kedungjati.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, sejarah perkeretaapian tidak hanya ditampilkan melalui museum maupun koleksi benda lama, tetapi dibawa kembali ke jalur aktif yang digunakan masyarakat.
Kehadiran Argo Merbabu berbalut livery vintage pun memberikan pemandangan berbeda bagi penumpang maupun masyarakat yang berada di sekitar jalur kereta.
Mulai 1 Oktober, Nama Argo Merbabu Berubah
Ada fakta lain yang membuat kemunculan livery vintage Argo Merbabu kali ini terasa istimewa.
Mulai 1 Oktober 2026, KAI akan menyederhanakan nama tiga layanan kereta relasi Semarang Tawang–Gambir.
Nama Argo Muria, Argo Sindoro, dan Argo Merbabu akan disatukan menggunakan satu identitas, yakni KA Muria.
Perubahan tersebut dilakukan untuk membuat identitas layanan lebih ringkas dan memudahkan pelanggan ketika mencari jadwal maupun melakukan pemesanan tiket.
Karena itu, pelanggan yang selama ini terbiasa mencari tiket Argo Merbabu perlu mulai memperhatikan nama KA Muria untuk perjalanan mulai 1 Oktober 2026.
Meski namanya berubah, pilihan perjalanan Semarang–Jakarta tetap tersedia.
KA Muria akan menggunakan sembilan kereta kelas eksekutif dengan kapasitas total 450 tempat duduk. Kereta melayani sejumlah stasiun seperti Pekalongan, Tegal, Cirebon, Bekasi, Jatinegara hingga Gambir. Pada perjalanan tertentu terdapat tambahan pemberhentian di Batang, Pemalang, dan Karawang.
Dengan perubahan tersebut, kemunculan Argo Merbabu berbalut hijau-kuning bukan hanya membawa kembali wajah kereta Indonesia dari masa lalu.
Momen ini sekaligus hadir menjelang perubahan identitas layanan kereta eksekutif yang selama ini menjadi salah satu penghubung utama Kota Semarang dengan Jakarta.
Bagi warga Semarang dan penggemar kereta api, Argo Merbabu berwajah retro menjadi pertemuan unik antara sejarah perkeretaapian era 1950-an dengan layanan kereta modern masa kini.