City Development 20 Jul 2026 Semarang Next 35 views

Hidupkan TBRS, Pemkot Semarang Jadwalkan Pentas Rutin Wayang Orang Ngesti Pandowo

Hidupkan TBRS, Pemkot Semarang Jadwalkan Pentas Rutin Wayang Orang Ngesti Pandowo
Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berupaya mengaktifkan kembali Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sebagai pusat kesenian dan kebudayaan. Salah satu langkah utamanya adalah dengan merutinkan pementasan Wayang Orang Ngesti Pandowo. Upaya ini merupakan wujud keseriusan Pemkot dalam memproyeksikan Ngesti Pandowo sebagai daya tarik utama wisata budaya di Semarang. Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, saat menghadiri perayaan hari jadi ke-89 Ngesti Pandowo pada Sabtu (18/7/2026) malam. Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk mempertegas karakter pariwisata kota sekaligus meramaikan kembali kawasan TBRS. Agustina menilai, kelompok seni yang usianya hampir mencapai satu abad ini mampu menjadi daya tarik unik yang membedakan Semarang dari kota-kota lain. "Setiap destinasi wisata kelas dunia pasti memiliki keunikan tersendiri. Karena Semarang memiliki kesenian wayang orang dan warganya juga menyukainya, sangat tepat jika kita adakan pentas secara rutin," ungkap Agustina. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan Ngesti Pandowo merupakan bagian dari rencana besar untuk menjadikan TBRS sebagai wadah bagi berbagai aktivitas seni. Ke depannya, kesenian seperti macapat, geguritan, dan agenda budaya lainnya akan dimasukkan ke dalam kalender acara tahunan Kota Semarang. Renovasi TBRS dan Apresiasi untuk Seniman Sebagai wujud dukungan nyata, Pemkot Semarang telah melakukan perbaikan pada gedung pertunjukan beserta fasilitas pendukung di kawasan TBRS. Dalam kesempatan tersebut, Pemkot juga memberikan apresiasi kepada lima keluarga pendiri Ngesti Pandowo serta menyerahkan kostum wayang orang yang baru secara simbolis kepada Ketua Ngesti Pandowo, Joko Purnomo. Agustina menjelaskan bahwa kostum-kostum baru tersebut sengaja dibuat untuk menggantikan kostum lama yang sudah bersejarah. "Kostum yang sudah sangat tua nantinya akan kita simpan di museum agar bisa menjadi bahan edukasi bagi generasi penerus," tambahnya. Dukungan Pemkot ternyata tidak terbatas pada infrastruktur fisik saja. Kesejahteraan para pelaku seni juga diperhatikan melalui fasilitas pemeriksaan kesehatan serta bantuan pendidikan untuk anak-anak mereka. Pada puncak perayaan HUT yang mengusung tema β€œLestari Budayaku, Bersama Kita Maju, Membangun Semarang Semakin Hebat” ini, Wali Kota beserta para istri pejabat Forkopimda bahkan ikut unjuk gigi bermain dalam lakon Wahyu Purbo Sejati. Perayaan yang digelar selama tiga hari berturut-turut ini juga dimeriahkan dengan berbagai acara, mulai dari bazar UMKM, pentas seni, lokakarya tari, bursa sanggar, hingga pameran arsip dan dokumentasi yang menjadi ajang interaksi antara seniman dan masyarakat luas.
Bagikan: