Heritage 20 Jul 2026 5 0.0 (0) 0

Wisata Religi Masjid Kauman Semarang: Cagar Budaya Tertua di Alun-Alun Johar

Wisata Religi Masjid Kauman Semarang: Cagar Budaya Tertua di Alun-Alun Johar
Sejarah Masjid Kauman Semarang: Arsitektur Jawa dan Pusat Tradisi Dugderan Di tengah hiruk-pikuk pusat perdagangan Pasar Johar dan Alun-Alun Kota Semarang, berdiri sebuah bangunan megah yang memancarkan ketenangan spiritual dan nilai sejarah yang mendalam. Bangunan tersebut adalah Masjid Kauman Semarang, atau yang secara resmi dikenal sebagai Masjid Agung Kauman. Sebagai salah satu masjid tertua di ibu kota Jawa Tengah, Masjid Kauman bukan sekadar tempat ibadah. Masjid ini adalah tonggak sejarah perkembangan Islam, pusat kebudayaan lokal, sekaligus saksi bisu perjalanan panjang Kota Semarang. Sejarah Berdirinya Masjid Agung Kauman Sejarah Masjid Kauman sangat erat kaitannya dengan pendiri Kota Semarang, yakni Ki Ageng Pandan Arang (Bupati pertama Semarang). Pada awalnya, masjid ini berada di kawasan Mugas, lalu dipindahkan ke Bubakan, sebelum akhirnya menetap di lokasi yang sekarang (kawasan Kauman) pada pertengahan abad ke-16. Bangunan masjid yang berdiri megah saat ini bukanlah bangunan aslinya. Pada tahun 1889, masjid ini sempat hangus terbakar akibat sambaran petir. Setahun kemudian, pada tahun 1890, masjid ini dibangun kembali dengan bantuan arsitek Belanda, G.A. Gambier, serta dukungan dana dari Bupati Semarang kala itu, Raden Tumenggung Cokrodipuro. Keunikan Arsitektur Khas Jawa (Tajug Tumpang Tiga) Berbeda dengan masjid-masjid modern yang identik dengan kubah berbentuk setengah bola, Masjid Kauman Semarang mempertahankan arsitektur murni khas Nusantara. Atap masjid ini berbentuk Tajug Tumpang Tiga (atap bersusun tiga), yang mirip dengan arsitektur Masjid Agung Demak. Secara filosofis, tiga susunan atap ini melambangkan tiga tingkatan spiritual dalam Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Bangunan utama masjid ditopang oleh tiang-tiang (saka) dari kayu jati solid yang memberikan kesan kokoh dan klasik. Meski didominasi gaya Jawa, sentuhan arsitektur kolonial Belanda dan Timur Tengah juga terlihat tipis pada bagian jendela, pintu, dan ornamen mimbar khotbahnya. Pusat Lahirnya Tradisi Dugderan Salah satu hal yang membuat Masjid Kauman Semarang sangat istimewa adalah perannya dalam kebudayaan lokal. Masjid ini merupakan titik awal lahirnya Tradisi Dugderan, sebuah festival rakyat untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini dimulai pada tahun 1881 oleh Bupati Semarang. Kala itu, untuk menyatukan perbedaan pendapat mengenai awal puasa, Bupati membunyikan bedug di Masjid Kauman (berbunyi "Dug") yang disusul dengan dentuman meriam di alun-alun (berbunyi "Der"). Hingga hari ini, Masjid Kauman tetap menjadi pusat prosesi pembacaan Suhuf Halaqah (pengumuman awal Ramadan) oleh Wali Kota Semarang. Saksi Bisu Proklamasi Kemerdekaan Tidak banyak yang tahu bahwa Masjid Kauman Semarang memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Masjid ini adalah tempat pertama di Kota Semarang di mana berita Proklamasi Kemerdekaan RI diumumkan secara terbuka kepada masyarakat. Pada saat salat Jumat, beberapa hari setelah 17 Agustus 1945, seorang tokoh lokal bernama dr. Agus membacakan teks proklamasi di mimbar masjid ini, membakar semangat juang warga Semarang untuk mempertahankan kemerdekaan. Destinasi Wisata Religi Wajib di Semarang Kini, Masjid Kauman Semarang telah berstatus sebagai Bangunan Cagar Budaya. Setelah kawasan Alun-Alun Johar direvitalisasi oleh pemerintah, keindahan masjid ini semakin terpancar. Bagi Anda yang berkunjung ke Semarang, menyempatkan diri untuk salat atau sekadar duduk di serambi Masjid Kauman akan memberikan kedamaian tersendiri, sembari meresapi jejak sejarah yang tertinggal di setiap sudut kayunya.
Bagikan:
Interaksi pembaca

Rating, Favorit & Ulasan