Traditional Art
19 Jul 2026
3,462
0.0 (0)
0
Sesaji Rewanda Gua Kreo: Tradisi Warga Semarang Berbagi dengan Kera sebagai Tanda Syukur
Masyarakat Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, selalu menggelar tradisi tahunan Sesaji Rewanda di kawasan Objek Wisata Gua Kreo. Biasanya acara ini digelar seminggu setelah Lebaran. Ritual ini merupakan wujud syukur warga sekaligus momen berbagi rezeki dengan kawanan kera yang menghuni kawasan tersebut.
Kirab budaya dimulai pada pukul 09.00 WIB dari pertigaan Masjid Al Mabrur. Dipimpin oleh seorang manggalayuda, ratusan warga mengarak replika kayu jati raksasa beserta sembilan gunungan yang berisi buah-buahan, hasil bumi (polo pendem), ketupat, tumpeng, hingga sego kethek. Iring-iringan ini semakin semarak dengan kehadiran puluhan peserta berkostum kera warna-warni yang sukses menarik antusiasme warga dan wisatawan di sepanjang jalan.
Setibanya di area parkir Gua Kreo, acara dilanjutkan dengan pementasan tari dan prosesi budaya yang diiringi alunan gamelan. Puncak acara ditandai dengan diturunkannya tiga gunungan buah untuk pakan kera-kera Gua Kreo, sementara enam gunungan lainnya menjadi rebutan meriah bagi warga dan pengunjung yang hadir.
"Rewanda" memiliki arti kera. Tradisi ini pada dasarnya adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan kesehatan, sekaligus upaya merawat warisan leluhur.
Tradisi ini telah diwariskan hingga generasi keempat atau kelima sejak era 1940-an. Sejak Kandri berstatus Desa Wisata pada 2012, acara ini mendapat dukungan pembiayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang sehingga skalanya menjadi lebih besar. Saat ini, Sesaji Rewanda digelar dua kali: ritual internal warga pada H+3 Lebaran, dan perayaan untuk umum yang jadwalnya disesuaikan dengan agenda Pemkot Semarang.
<b>Jejak Legenda Sunan Kalijaga</b>
Tradisi ini terkait dengan legenda Sunan Kalijaga yang diutus mencari saka guru untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Kala itu, sebuah kayu jati besar ditemukan di wilayah Kota Semarang dan dialirkan lewat Sungai Kreo.
Ditemukan pohon jati besar, setelah didekati, mau ditebang, (pohon jati) itu pindah. Tempat tersebut akhirnya dinamakan Jatingaleh. Terus dicari lagi sampai ke Jatikalangan (yang artinya) jati besar itu dikelilingi atau dikalangi jati-jati kecil.
Setelah ditebang, dialirkan di Sungai Kreo ini, tersangkut di sungai depan Gua Kreo ini. Akhirnya setelah semedi, bertapa, Kanjeng Sunan Kalijaga dibantu oleh segerombolan monyet tadi yang warnanya merah, kuning, hitam dan putih, akhirnya bisa diangkat.
Semula kera warna-warni itu hendak ikut Sunan Kalijaga ke Demak usai membantu mengangkat kayu jati yang tersangkut. Namun Sunan Kalijaga bertitah kepada mereka untuk tetap tinggal di wilayah Gua Kreo.
(Kera-kera itu) diberi tugas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk merawat, melestarikan, menjaga wilayah ini, karena diyakini nanti wilayah ini akan menjadi tempat yang berkah bagi warga di sini. Tempat untuk mencari pekerjaan utama di sini karena nanti tempat ini akan menjadi tempat yang ramai.
Banyak warga di daerah tersebut yang dulunya berprofesi sebagai petani tradisional, kini beralih menjadi pelaku pariwisata. Mereka kini hidup dari sektor pendukung wisata seperti UMKM, transportasi perahu, pemandu wisata, hingga mengelola homestay.
Interaksi pembaca
Rating, Favorit & Ulasan
Masuk ke akun untuk menyimpan favorit dan menulis ulasan.
Belum ada ulasan yang disetujui.